Catatan diri seorang mohyiyi

Sabar Ikhtiar Profesional

Archive for New Life

Hunting Design Rumah

“Home is where the heart is.” ~ Pliny the Elder

Dulu ketika masih sekolah, pada pelajaran IPS dikenal kebutuhan dasar manusia yakni sandang, papan dan pangan. Sebagai karyawan yang belum mempunyai pendapatan tambahan selain gaji, saya harus merencanakan dan menyusun strategi untuk masa depan. Walaupun saat ini sudah ada rumah tinggal (RD 12 A), namun masih milik perusahaan dengan status hak guna yang sewaktu-waktu bisa diminta/dikosongkan kembali.

Rencananya kami mau membangun rumah di daerah Bojonggede Bogor, kapling ukuran 6×14 meter plus 3,5×10 meter di bagian belakangnya. Kapling ini percis depan rumah

orang tua kami yang dulunya eks lapang badminton. Terbatasnya areal  yang mengakibatkan mahalnya harga lahan mengharuskan kita untuk pandai-pandai memilih dan menentukan desain yang ideal dan sesuai dengan cita-cita. Rumah tempat kita tinggal dan beraktivitas selain harus memenuhi aspek kelayakan, keamanan, kenyamanan, juga tak kalah penting aspek estetis.

Lahan sempit ini mengharuskan kami memutar otak agar memperoleh bentuk dan desain yang oke. Mungkin yang diprioritaskan adalah ruang-ruang utama seperti kamar tidur utama, kamar anak, dapur, ruang tamu, ruang keluarga, dan kamar mandi.

Desain yang kami inginkan adalah tipe minimalis dan bertingkat. Karena budget saat ini masih minim, kami rencananya membangun secara bertahap sesuai dengan kondisi keuangan. Oleh karena itu sekarangpun baru sebatas mencari desain yang sesuai dengan lahan yang tersedia.

Mudah-mudahan rizkinya dilancarkan agar rumah yang dicita-citakan segera terwujud. Mohon doanya juga ya… Amiin

*) Gambar atas: salah satu halaman di buku yang saya beli. Gambar bawah: display buku di Toko Gramedia, Grage Cirebon

 

Advertisements

The Day: Preparation

Walo sehat tetep aja nginep di RS mah ga enak. Selain suasana juga nyamuknya buanyak sekali (walo dah masang obat nyamuk elektrik juga aksi smash raket listrik). Berhubung rekomendasi dan rujukan dokter bahwa bumil harus check in dari kemarin sore (H-1) jadi dijalani saja.
Bumil diwajibkan puasa dari jam 3 dan mandi jam 5 pagi. Setelah itu dipasang infus, urinair dan memakai baju operasi. Pemeriksaan alat, bahan dah obat untuk operasi. Bumil juga diperiksa tensi darah. Oiya semalam denyut jantung dedebayi jg dicheck, 141-152 kali/menit, katanya normal.
Tapi sampai saat ini kami belum dapat jadwal pasti, menurut perawat/bidan masih menunggu dokter, biasanya setelah jam 9. Jadi sementara waktu kami masih menunggu.
Untuk menjaga stamina, suami sebagai penjaga juga harus memperhatikan kesehatan. Sarapan sangat dianjurkan, apalagi jatah untuk pasien -yang sedang puasa- sudah siap jadi saya embat hehe (plus kiriman dari mamah mertua).
Selain sarapan, suami -dan keluarga- juga harus banyak sholawat dan shodaqoh (SMS dari Sdr M Hafiz). Juga perbanyak do’a terutama do’a Nabi Nuh “Laa ilaha illa anta, inni kuntum minadhoolimiin”. Amin

2009: The Proposal & Enganged

Peras sagu tumbuk pakai alu
damar getah oleskan pintu.
Hari Minggu dua tahun lalu
melamar dia diantar ortu.

Setelah berkenalan cukup lama, akhirnya saya memberanikan diri memohon restu orang tua untuk melamar Evrina Budiastuti binti Bapak Budoyo. Alhamdulillah niatan tersebut teryata didorong juga. Dan setelah dibicarakan kepada kedua belah pihak, pada hari Minggu tanggal 19 Juli 2009 lalu saya diantar oleh orang tua beserta saudara melamar dan bertunangan dengan Evrina. Dan hasilnya alhamdulillah saya diterima :).

Hal-hal yang menyangkut jenjang lebih lanjut dibicarakan kemudian.

Lega rasanya saat itu, karena salah satu tahapan dalam kehidupan saya telah terlewati.

Segera Nambah No Ponsel

Perbedaan provider layanan seluler kadang dikeluhkan apabila interaksi antar person cukup tinggi, hal ini dikarenakan tarip seringkali lebih mahal pada setiap layanan.
Beda tempat beda pula kebiasaan masyarakat dalam menggunakan layanan seluler. Begitupun saya. Di tempat sebelumnya yang ngetren adalah yang sinyalnya kuat, sedangkan di tempat baru-Subang kebanyakan memakai komunitas yang tarifnya paling murah.
Otomatis saya juga (akan segera) menggunakan no baru. Konon kata orang-orang disini telpon siang-malam gratis kepada sesama komunitas, hanya bayar-semacam abodemen-bulanan.
Tambah no biasanya nambah juga budget yang harus dialokasikan… Dan sepertinya gadget pun harus nambah, mulai melirik dualsim, agar on semua tanpa harus rempong nenteng banyak gadget.

Orientasi Lapangan Pasir Muncang

Di tempat baru saya ditugaskan untuk mengelola Lab Pengendalian Hayati (Biological Pest Control) serta kebun bibit se-Rayon Pasir Muncang (PSM). Sebagai awalan, hari ini diawali dengan aktivitas pengenalan/orientasi lapangan ditemani oleh coordinator sebelumnya yakni Bpk Maskun (Akun). Rayon ini dibagi menjadi 5 wilayah (VI-X), lumayan luas juga, tadi saja tidak semua kebun terkunjungi.

Kebetulan Sinder Wilayah diantaranya Bayu Adhi dan Iyandri Agusta sudah kenal, semoga saja nantinya bisa bekerja bersama. Amin

First Day At Subang

Diiringi doa dan harapan dari istri dan keluarga di Bojonggede-Bogor saya berangkat. Melintasi jalanan basah sisa hujan semalam dan dinginnya embun serta kabut pagi di wajah kami yang masih bergurat kantuk. Dibonceng bapak mertua sampai Gapura Tegar Beriman Pemda Bogor-Cibinong. Hari ini merupakan perdana kerja di tempat baru, Subang.

Maksud hati ingin mengejar waktu, agar sampai kantor lebih pagi. Apadaya ternyata sampai Subang siang juga, jam 10. Terpaksa deh agenda yang sudah disusun berantakan. Diantaranya: lapor kepada pimpinan setempat, perkenalan dan kulonuwun ke PG Subang serta ke mess/guess house. Namun karena sudah siang dan pimpinan setempat sudah pada berangkat ke kebun, jadinya saya langsung ke mess saja istirahat. Siang setelah istirahat saya baru ke kantor. Lapor serta kenalan dengan rekan-rekan disini, sebetulnya sudah sering ketemu.

Agenda kulonuwunnya di-pending sampai besok.

Saya selama transisi ini menempati kamar 10 mess PG Subang. Mungkin ini akan berlangsung hingga rumah tersedia dan siap huni. Semoga saja tidak terlalu lama dan saya bias cepat berdaptasi. Amin

#sebagai informasi dari Pak Nandang, yang sudah pengalaman, bus jurusan Jakarta-Subang (AC, via Tol Sadang) paling pagi dari Pasar Rebo berangkat jam 04.30, dan dari Kalijati-Subang menuju Jakarta terakhir jam 16.00 sore. Catat!

Mengungsikan Bini

Minggu ini temanya pekan dadakan. Gimana tidak, baru saja seminggu istri saya boyong ke Jatitujuh, sudah saya ungsikan lagi ke Bojonggede-Bogor.
Kerasa cape memang, karena saya masih kurang fit akibat batuk dan sempat drop pada hari Rabu dan Jumat, apalagi istri dalam kondisi hamil. Apalagi alam sebelumnya, kami paksakan berangkat ke Cirebon untuk check kandungan sampe larut malam saat pulang.

Pagi-pagi jam setengah enam kami sudah berangkat untuk mengejar jadwal keberangkatan kereta api Cirebon Ekspress (Cireks) 06:48. Dan ketika hendak membeli tiket, semua sudah terjual habis, yang tersedia hanya tiket tanpa tempat duduk. Selain itu harga tiket naik, dari biasa Rp 55.000 menjadi Rp 70.000, hal ini dikarenakan bertepatan dengan pekan liburan sekolah. Karena sudah terlanjur, jadinya kami terpaksa membeli. Dan bukan hanya sampai disitu kekecewaan saya, Cireks terlambat, baru tiba dan berangkat 07.15 pagi.
Bukan main penuhnya ini kereta, kursi sudah pasti terisi, apalagi gerbong restorasi, setiap sambungan orang berjongkok, ngampar dan masih banyak yang berdiri. Di stasiun Kandanghaur masih saja berhenti dan menaikkan penumpang. Gila! Saya sih masih kuat walau pun pasti ada batasnya, tapi istri sedang hamil, apa tega ikut berdesakan? Alhamdulillah ada orang baik yang mau mempersilahkan tempat duduknya untuk istri saya. Saya ngampar dengan beralaskan bantal busa sewaan, lumayan bisa duduk :p dan menikmati goyangan bersama yang lain.

Sampai st. Gambir jam 09.45an dan langsung membeli tiket KRL jurusan Bogor. Saya berharap bisa langsung berangkat, karena mendengar berita bahawa Commuter Line yang baru saja diuji coba dan resmi dioperasikan tanggal 2 Juli lalu rentang waktu/interval antar keberangkatan adalah 5-10 menit. Lakadalah, tak dinyana! Kami baru berangkat jam 11.06. Sebetulnya beberapa KRL ekonomi sudah sering lewat namun tidak pernah berhenti di st. ini. Alhasil kami baru nyampe rumah jam 12.30 dengan rasa lelah, pegal dan ngantuk. Ya, jangan ditanya, langsung tidur! :p

Sorenya, sesuai rencana saya diantar istri berangkat ke dokter H. langganan keluarga -yang konon manjur- di sebuah klinik di Bojonggede. Setelah daftar, antri dan menunggu 1 setengah jam, dapat juga giliran. Diperiksa, konsultasi, diagnosi, dan therapi dengan 3 obat. Kata dokter H. apabila belum sembuh juga saya harus rontgen, kemungkinan bronkhitis. Naudzubillah, Ya Alloh jauhkan saya dari penyakit dan sembuhkan. Amin

Setelah menyelesaikan beberapa administrasi kami hendak pulang, namun tiba-tiba hujan, padahal tidak bawa payung dan jaket, ya terpaksa berteduh sampai aga reda.

Begitulah cerita ngalor ngidulnya. Intinya saya ungsikan dulu istri di rumah mertua berhubung saya dipindahtugaskan ke Subang. Sampai rumah siap huni. Semoga masa transisi ini tidak terlalu lama dan kami dapat melaluinya dengan mudah. Amin

%d bloggers like this: