Catatan diri seorang mohyiyi

Sabar Ikhtiar Profesional

Archive for cuti

Usaha dan Keberuntungan

Simpan sepatu di dalam peti
Berkulit halus harganya tinggi.
Hari Sabtu mengambil cuti
Pergi ngampus terobos pagi.

Renyah peyek bertabur teri
Ambil abon jumput sejari.
Harus ngojek nganterin istri
Testing calon pegawai negeri.

Kain disulam bermotif ikan
Motif digambar bisa dadakan.
Mamah di dalam serius kerjakan
Ayah di luar berdoa panjatkan.

Mari bid’ah kita tinggalkan
Rasul Allah telah contohkan.
Usaha sudah dimaksimalkan
Takdir Allah yang menentukan.

Ke Cileungsi lewat Babakan
Lebak Bulus tanpa tanjakan.
Transparansi kita harapkan
Bukan lulus karena sogokan.

*) Tangga Gdg PAU dpn RK PAU 02.1 (Seafast Center). Kampus IPB Darmaga. 09:08
**) Test CPNS Kab Bogor.

Advertisements

Summary Post

Sabtu, 5 November 2011:

  • Ga bisa ke kebun, si atun kempes.
  • Sakit perut, gara-gara malam sebelumnya ujan2an di kebun nganter tamu, makan di Mang Yeye (sambalnya kebanyakan) :p
  • Pulang ke Bojong ngebis. Macet and dehidrasi!
  • Ketinggalan topi item di bis Warga Baru
  • Malamnya masih mules, tidur ga nyenyak coz Alfi rewel, mungkin rame takbiran.
  • Dipipisin Alfi 🙂

Minggu, 6 November 2011:

  • Shalat ied,
  • Motong qurban,
  • Nyate,
  • Di rumah rame, sodara, anak-anak dan cucu budhe dari Semper pada dateng, Alfi dapat kado lagi 🙂
  • Nganter istri ke bidan, keluhan sakit di perut and sakit saat ngASI.

Senin, 7 November 2011:

  • Cuti,
  • nganter istri konsultasi di Klinik Laktasi, RS Hermina Bogor.
  • Perut masih trauble.

Berpacu Waktu, Cuti, dan Persiapan Lahiran

Kebaya brukat dijahit kupnat
bahan serat jangan disikat.
Malam Jumat katanya sunnat (h)
walau berat tetap berangkat.

Hari ini, walaupun cuti, sungguh padat, cape, tapi tetap senang, bahagia dan semangat!
Dimulai dari kemarin sore, berangkat dari Subang, berpacu dengan waktu untuk menunaikan janji mengantar istri kontrol ke obgyn. Alhamdulillah walau antrian terus terlewat karena menunggu saya datang, dan jadi pasien terakhir, saya dapat mendampingi istri konsultasi dan USG. Hasil observasi, dokter mengatakan dedebayi belum turun padahal usia kandungan sudah 38 minggu, hal ini karena panggul sempit.
Dr menambahkan kemungkinan caesar. Jreng jreng!! Dan membuat rujukan untuk operasi di RSBH Rabu 5 Okt depan.
Pagi tadi setelah dari bank, kami survey dan mencari opsi lain. RSBH walau fasilitas lebih bagus tapi lumayan jauh juga dari domisili. Lanjut ke RSUD, walau sudah 3 kali periksa rutin, kami tetap terus mencari informasi. Dan Sabtu besok harus chek lagi.
Kami berharap ada keajaiban, istri melahirkan normal. Toh nanti kondisi lain yang penting ibu dan dedebayi selamat. Amin
Ini sungguh pengalaman berharga, harus dibawa santai, jangan panik, tetap tenang, en-joy! Makanya kami sempatkan makan bakso dulu berdua 🙂
Berhubung cuti hanya 1 hari, saya harus berangkat lagi ke Subang. Berat rasanya meninggalkan istri sedang hamil tua. Mudah-mudahan saja selama jauh kondisi bumil aman, sehat dan fit.
Mohon doanya bumil dan dedebayi diberi kesehatan, dilancarkan, dimudahkan dan diselamatkan dalam persalinan. Amin

Mengungsikan Bini

Minggu ini temanya pekan dadakan. Gimana tidak, baru saja seminggu istri saya boyong ke Jatitujuh, sudah saya ungsikan lagi ke Bojonggede-Bogor.
Kerasa cape memang, karena saya masih kurang fit akibat batuk dan sempat drop pada hari Rabu dan Jumat, apalagi istri dalam kondisi hamil. Apalagi alam sebelumnya, kami paksakan berangkat ke Cirebon untuk check kandungan sampe larut malam saat pulang.

Pagi-pagi jam setengah enam kami sudah berangkat untuk mengejar jadwal keberangkatan kereta api Cirebon Ekspress (Cireks) 06:48. Dan ketika hendak membeli tiket, semua sudah terjual habis, yang tersedia hanya tiket tanpa tempat duduk. Selain itu harga tiket naik, dari biasa Rp 55.000 menjadi Rp 70.000, hal ini dikarenakan bertepatan dengan pekan liburan sekolah. Karena sudah terlanjur, jadinya kami terpaksa membeli. Dan bukan hanya sampai disitu kekecewaan saya, Cireks terlambat, baru tiba dan berangkat 07.15 pagi.
Bukan main penuhnya ini kereta, kursi sudah pasti terisi, apalagi gerbong restorasi, setiap sambungan orang berjongkok, ngampar dan masih banyak yang berdiri. Di stasiun Kandanghaur masih saja berhenti dan menaikkan penumpang. Gila! Saya sih masih kuat walau pun pasti ada batasnya, tapi istri sedang hamil, apa tega ikut berdesakan? Alhamdulillah ada orang baik yang mau mempersilahkan tempat duduknya untuk istri saya. Saya ngampar dengan beralaskan bantal busa sewaan, lumayan bisa duduk :p dan menikmati goyangan bersama yang lain.

Sampai st. Gambir jam 09.45an dan langsung membeli tiket KRL jurusan Bogor. Saya berharap bisa langsung berangkat, karena mendengar berita bahawa Commuter Line yang baru saja diuji coba dan resmi dioperasikan tanggal 2 Juli lalu rentang waktu/interval antar keberangkatan adalah 5-10 menit. Lakadalah, tak dinyana! Kami baru berangkat jam 11.06. Sebetulnya beberapa KRL ekonomi sudah sering lewat namun tidak pernah berhenti di st. ini. Alhasil kami baru nyampe rumah jam 12.30 dengan rasa lelah, pegal dan ngantuk. Ya, jangan ditanya, langsung tidur! :p

Sorenya, sesuai rencana saya diantar istri berangkat ke dokter H. langganan keluarga -yang konon manjur- di sebuah klinik di Bojonggede. Setelah daftar, antri dan menunggu 1 setengah jam, dapat juga giliran. Diperiksa, konsultasi, diagnosi, dan therapi dengan 3 obat. Kata dokter H. apabila belum sembuh juga saya harus rontgen, kemungkinan bronkhitis. Naudzubillah, Ya Alloh jauhkan saya dari penyakit dan sembuhkan. Amin

Setelah menyelesaikan beberapa administrasi kami hendak pulang, namun tiba-tiba hujan, padahal tidak bawa payung dan jaket, ya terpaksa berteduh sampai aga reda.

Begitulah cerita ngalor ngidulnya. Intinya saya ungsikan dulu istri di rumah mertua berhubung saya dipindahtugaskan ke Subang. Sampai rumah siap huni. Semoga masa transisi ini tidak terlalu lama dan kami dapat melaluinya dengan mudah. Amin

%d bloggers like this: