Catatan diri seorang mohyiyi

Sabar Ikhtiar Profesional

Archive for mutasi

Orientasi Lapangan Pasir Muncang

Di tempat baru saya ditugaskan untuk mengelola Lab Pengendalian Hayati (Biological Pest Control) serta kebun bibit se-Rayon Pasir Muncang (PSM). Sebagai awalan, hari ini diawali dengan aktivitas pengenalan/orientasi lapangan ditemani oleh coordinator sebelumnya yakni Bpk Maskun (Akun). Rayon ini dibagi menjadi 5 wilayah (VI-X), lumayan luas juga, tadi saja tidak semua kebun terkunjungi.

Kebetulan Sinder Wilayah diantaranya Bayu Adhi dan Iyandri Agusta sudah kenal, semoga saja nantinya bisa bekerja bersama. Amin

Advertisements

First Day At Subang

Diiringi doa dan harapan dari istri dan keluarga di Bojonggede-Bogor saya berangkat. Melintasi jalanan basah sisa hujan semalam dan dinginnya embun serta kabut pagi di wajah kami yang masih bergurat kantuk. Dibonceng bapak mertua sampai Gapura Tegar Beriman Pemda Bogor-Cibinong. Hari ini merupakan perdana kerja di tempat baru, Subang.

Maksud hati ingin mengejar waktu, agar sampai kantor lebih pagi. Apadaya ternyata sampai Subang siang juga, jam 10. Terpaksa deh agenda yang sudah disusun berantakan. Diantaranya: lapor kepada pimpinan setempat, perkenalan dan kulonuwun ke PG Subang serta ke mess/guess house. Namun karena sudah siang dan pimpinan setempat sudah pada berangkat ke kebun, jadinya saya langsung ke mess saja istirahat. Siang setelah istirahat saya baru ke kantor. Lapor serta kenalan dengan rekan-rekan disini, sebetulnya sudah sering ketemu.

Agenda kulonuwunnya di-pending sampai besok.

Saya selama transisi ini menempati kamar 10 mess PG Subang. Mungkin ini akan berlangsung hingga rumah tersedia dan siap huni. Semoga saja tidak terlalu lama dan saya bias cepat berdaptasi. Amin

#sebagai informasi dari Pak Nandang, yang sudah pengalaman, bus jurusan Jakarta-Subang (AC, via Tol Sadang) paling pagi dari Pasar Rebo berangkat jam 04.30, dan dari Kalijati-Subang menuju Jakarta terakhir jam 16.00 sore. Catat!

Mengungsikan Bini

Minggu ini temanya pekan dadakan. Gimana tidak, baru saja seminggu istri saya boyong ke Jatitujuh, sudah saya ungsikan lagi ke Bojonggede-Bogor.
Kerasa cape memang, karena saya masih kurang fit akibat batuk dan sempat drop pada hari Rabu dan Jumat, apalagi istri dalam kondisi hamil. Apalagi alam sebelumnya, kami paksakan berangkat ke Cirebon untuk check kandungan sampe larut malam saat pulang.

Pagi-pagi jam setengah enam kami sudah berangkat untuk mengejar jadwal keberangkatan kereta api Cirebon Ekspress (Cireks) 06:48. Dan ketika hendak membeli tiket, semua sudah terjual habis, yang tersedia hanya tiket tanpa tempat duduk. Selain itu harga tiket naik, dari biasa Rp 55.000 menjadi Rp 70.000, hal ini dikarenakan bertepatan dengan pekan liburan sekolah. Karena sudah terlanjur, jadinya kami terpaksa membeli. Dan bukan hanya sampai disitu kekecewaan saya, Cireks terlambat, baru tiba dan berangkat 07.15 pagi.
Bukan main penuhnya ini kereta, kursi sudah pasti terisi, apalagi gerbong restorasi, setiap sambungan orang berjongkok, ngampar dan masih banyak yang berdiri. Di stasiun Kandanghaur masih saja berhenti dan menaikkan penumpang. Gila! Saya sih masih kuat walau pun pasti ada batasnya, tapi istri sedang hamil, apa tega ikut berdesakan? Alhamdulillah ada orang baik yang mau mempersilahkan tempat duduknya untuk istri saya. Saya ngampar dengan beralaskan bantal busa sewaan, lumayan bisa duduk :p dan menikmati goyangan bersama yang lain.

Sampai st. Gambir jam 09.45an dan langsung membeli tiket KRL jurusan Bogor. Saya berharap bisa langsung berangkat, karena mendengar berita bahawa Commuter Line yang baru saja diuji coba dan resmi dioperasikan tanggal 2 Juli lalu rentang waktu/interval antar keberangkatan adalah 5-10 menit. Lakadalah, tak dinyana! Kami baru berangkat jam 11.06. Sebetulnya beberapa KRL ekonomi sudah sering lewat namun tidak pernah berhenti di st. ini. Alhasil kami baru nyampe rumah jam 12.30 dengan rasa lelah, pegal dan ngantuk. Ya, jangan ditanya, langsung tidur! :p

Sorenya, sesuai rencana saya diantar istri berangkat ke dokter H. langganan keluarga -yang konon manjur- di sebuah klinik di Bojonggede. Setelah daftar, antri dan menunggu 1 setengah jam, dapat juga giliran. Diperiksa, konsultasi, diagnosi, dan therapi dengan 3 obat. Kata dokter H. apabila belum sembuh juga saya harus rontgen, kemungkinan bronkhitis. Naudzubillah, Ya Alloh jauhkan saya dari penyakit dan sembuhkan. Amin

Setelah menyelesaikan beberapa administrasi kami hendak pulang, namun tiba-tiba hujan, padahal tidak bawa payung dan jaket, ya terpaksa berteduh sampai aga reda.

Begitulah cerita ngalor ngidulnya. Intinya saya ungsikan dulu istri di rumah mertua berhubung saya dipindahtugaskan ke Subang. Sampai rumah siap huni. Semoga masa transisi ini tidak terlalu lama dan kami dapat melaluinya dengan mudah. Amin

The Last Monday

Senin ini merupakan hari terakhir kerja disini karena per Rabu insyaAlloh saya memulai di Subang. Ada sesuatu yang lain, beda dan lain dari biasanya. Empat puluh dua bulan sudah saya mengais rezeqi di Jatitujuh ini, dan tiba saatnya untuk merasakan tempat baru, suasana baru dan rutinitas baru.

Agenda hari ini adalah mengajukan amparah kendaraan untuk mengantar istri chek ke dokter kandungan (rutin bulanan) dan besok ke stasiun Jatibarang, mengajukan cuti 1 hari (Selasa) untuk “mengungsikan” istri sementara waktu ke Bojonggede-Bogor, dan yang terakhir tentu saja pamitan.

Oiya, kemarin Minggu menghabiskan senja untuk jalan-jalan melintasi kebun bersama istri, yang sebelumnya dari hari Jumat kami habiskan untuk packing.

3 in 2

3 in 2, yup! pasti heran, biasanya kan 2 in 1 atau 3 in 1, tapi ini mah 3 in 2. Mengapa demikian?

Dalam dua minggu terakhir saya menerima 3 Surat Keputusan (SK), yakni tanggal 17 Juni lalu tentang perubahan jobdesk, disusul kemarin 1 Juli 2011 langsung 2 SK. Pertama pembagian SK kenaikan golongan/pangkat, gaji, tunjangan dll hasil kinerja tahun sebelumnya. Kedua, masih tanggal 1 Juli, siang menjelang sore mendapat SK lagi tentang perubahan jobdesk dan mengharuskan saya stay di Subang.

So, dari kemarin sore saya sempat shock juga, karena harus merencanakan pindahan padahal kondisi badan sedang drop plus istri lagi hamil. Namun setelah direnungi saya baru sadar bahwa rotasi, mutasi dan promosi lazim adanya di setiap pekerjaan, apalagi saya dahulu saat diangkat menjadi pegawai tetap sudah menyatakan kesiapan untuk ditempatkan dimana saja oleh perusahaan.

Packing, itulah pekerjaan rumah yang musti saya lakukan secepatnya. Barang-barang seisi rumah walaupun belum begitu banyak ternyata merepotkan juga ketika harus diboyong. Selain barang-barang, istri sementara harus diungsikan ke Bojonggede – Bogor, karena di tempat baru rumah belum bisa langsung dihuni.

Mohon do’anya saja semoga saya di tempat baru mendapatkan kemudahan, kelancaran dan keberhasilan dalam bekerja. Amin

Laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adziim.

%d bloggers like this: